loading
Meme Comic Indonesia. Komunitas Meme Terbesar di Indonesia!

Sensor Berlebihan Tv Indonesia, Efektifkah?

Sensor Berlebihan Tv Indonesia, Efektifkah?

19 June 2020

Sensor.

Ini adalah langkah yang bertujuan mengaburkan atau menghilangkan satu aspek dalam tayangan. Secara umum, sebuah sensor merupakan langkah yang (dianggap) efektif untuk menyaring konten yang akan diserap masyarakat. Sensor biasanya dapat berupa pemotongan konten atu durasi, atau dalam bentuk penambahan efek (seperti black bar, mozaik ataupun blur). Metode sensor seperti ini lazim digunakan di berbagai dunia.

Sensor, terutama belakangan ini di televisi Indonesia, semakin merambah dan cenderung potensial “merusak” apa yang sebenarnya “biasa”.

Mungkin ada yang berkata “Ah dasar otak lu aja yang mesum” saat mengkaji kalimat itu. Biar saya akan kasih contoh yang mewakili kondisi “rusak” tadi.

Doraemon. Jauh sebelum era millennium, reformasi atau apalah sebutannya, Doraemon merupakan anime yang memang dikategorikan untuk semua kalangan umur. Sensor visual tidak pernah menghadang anime ini, karena memang kontennya tidak memiliki hal yang ditujukan untuk segmen usia tertentu. Tidak seperti anime Hentai, misalnya.

Tapi di jaman sekarang ini? Karakter Shizuka, yang merupakan anak SD, mengalami sensor visual saat dia sedang mengenakan pakaian renang.

Panji Pragiwaksono :
"Yang nafsu siapa!?"

Karena konotasi sensor visual adalah untuk “hal mesum atau dan kekerasan”, maka tak ayal dari konotasi itu jadi memprihatinkan saat diletakkan pada tayangan semua umur seperti Doraemon. Maksud saya, Come on bro, Apa baju renang merupakan sesuatu yang sexually arousing di tayangan semua umur seperti Doraemon?

Atau gimana menjelaskan sensor di acara liputan pertandingan olahraga voli pantai?

Dan bahkan akan aneh saat hal-hal yang bukan bersifat “explicit content” seperti rokok atau dress kebaya di televisi (atau portal berita berbahasa Indonesia) juga terkena sensor blur.

Saya akan setuju jika konten eksplisit bersifat kekerasan (seperti darah, mayat, hal-hal gore lainnya) mendapatkan sensor ketat karena efeknya yang bisa menimbulkan trauma. Tapi cleavage? Apakah iya orang akan trauma dengan melihat hal seperti itu?

Saya bukan mengatakan kalau sensor itu tidak perlu atau tidak harus ada lho. Tidak sama sekali. Sensor, at some extent, memang harus ada untuk proteksi pemirsa. Hanya saja saat sensor diterapkan secara dipaksakan di semua bagian yang secara umumbtidak perlu maka sensor akan menjadi hal yang menyebalkan. Merusak display. Mengerdilkan kemampuan berpikir dan menyaring konten dari pemirsa tayangan.

Sensor TV akan lebih baik jika dibarengi dengan klasifikasi usia di tayangan.

Saya tahu hal ini sudah diterapkan di televisi kita, tapi saya juga tahu kalau hanya 0.01% saja yang mematuhi klasifikasi ini. Tak hanya di televisi! Saat bro sis nonton film bioskop yang bukan rating Semua Umur seperti Thor: Ragnarok misalnya, pasti ada penonton anak-anak di bawah umur yang dibawa orang tua mereka ke dalam ruangan teater. Rasanya ngeselin ‘kan?

Sensor hanya bisa efektif kalau ada peran dari orang tua. Orang tua bertugas memberikan pengajaran atau doktrin pada anak-anak mereka agar hanya menonton tayangan yang sesuai dengan usia mereka.

Hal mudah dan sepele di atas kertas, namun di kenyataan terlihat seperti berat banget untuk dijalankan para orang tua Indonesia.

Kalau alasan adanya sensor TV yang sangat ketat seperti sekarang adalah untuk hal-hal mulia seperti menjaga moralitas dan sejenisnya, jadi bagaimana dengan anak zaman dulu yang tayangan televisi mereka tidak mendapatkan sensor blur secara ketat yang didapatkan anak zaman sekarang? Apakah moralitas mereka lebih buruk?

Pengajar moral paling efektif adalah keluarga terdekat. Orang tua dan guru. Dan ajaran moralitas, jika diajarkan dengan metode yang tepat dan akurat, akan menghasilkan hasil yang baik pula. Kuncinya adalah keterbukaan, diskusi sehat serta pikiran terbuka.

Sensor super ketat hanya akan menimbulkan keingintahuan tinggi, dan akan celaka kalau keingintahuan itu dicari lewat mesin pencari di internet. Karena internet adalah belantara tanpa penjaga.

Saya akan lebih mendukung klasifikasi usia, pemisahan jam tayang serta edukasi kontinu pada anak dan generasi muda untuk tayangan televisi dan hal-hal edukasi lain di TV ketimbang sensor yang efektifitasnya juga tidak lebih baik dan hanya merusak tampilan tayangan.

credit: Ensiklopedia Bebas

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL LAINNYA

Guru-Guru Di Sekolah

Guru-Guru Di Sekolah

Satu hal yang pasti sangat dekat dengan anak sekolah…

Beras Kok Analog?

Beras Kok Analog?

Pada musim kemarau seperti ini, banyak ladang padi…

Benarkah Tsunami Aceh Sudah Diramalkan?

Benarkah Tsunami Aceh Sudah Diramalkan?

Jejak tsunami Aceh tak hanya bisa dilacak melalui…

Jumlah Pengunjung Website MCI
Pageviews Visits
1344201 848253

KOMIK MCI TERBARU

ARTIKEL KEREN DARI MCI-ID

Apa Itu Nolep?

Apa Itu Nolep?

Kata nolep ini bukan kata yang terdaftar…
Benarkah SMA Adalah Masa Paling Indah?

Benarkah SMA Adalah Masa Paling…

“Tiada masa paling indah, Masa-masa…
Kenapa Setan Di Setiap Negara Berbeda-Beda?

Kenapa Setan Di Setiap Negara…

Pernahkah terlintas di pikiran kalian kenapa…
Bulu Pantat, Apa Fungsinya?

Bulu Pantat, Apa Fungsinya?

Sudah menjadi hal lumrah bila semenjak pubertas…
Mie Teroos Sampe Muntah Darah, Pria Ini Divonis Tak…

Mie Teroos Sampe Muntah Darah,…

Seperti yang kita ketahui, terlalu banyak…
Dokter Gadungan Beraksi 15 Tahun Tanpa Ketahuan, Kontrak…

Dokter Gadungan Beraksi 15 Tahun…

Para oknum yang menyamar dengan kedok gadungan…
Sensor Berlebihan Tv Indonesia, Efektifkah?

Sensor Berlebihan Tv Indonesia,…

Sensor. Ini adalah langkah yang bertujuan…
Kenapa Sih Orang Indonesia Doyan Banget Makan Bakso?

Kenapa Sih Orang Indonesia Doyan…

Bakso merupakan makanan yang sangat umum…
Benarkah Uang Koin 1000 Bergambar Kelapa Sawit Laku…

Benarkah Uang Koin 1000 Bergambar…

Belakangan ini viral dan beredar di media…
Hal hal yang membuat pria gagal mendekati wanita

Hal hal yang membuat pria gagal…

Banyak cowok mengeluhkan kalau mereka sulit…
banner ads